Holiday never ending ini namanya. Setelah minggu kemarin ikut family gathering di kantor, minggu ini refreshing dadakan ke Bandung. Akhirnyaaaaa….!!

Memanfaatkan kebersamaan sama suami dengan menggila (maklum kami LDM alias Long Distance After Marriage). Menjalankan ide – ide yang muncul dadakan, dengan cara mewujudkannya menjadi nyata.
Heehehehehehe….

Berangkat dari Medan sore tanggal 27 Oktober 2015. Tanggal 28 ke Pabrikan di Pulo Gadung periksa barang (kerjaan kantor). Selesai kerja sekitar jam setengah lima sore. Langsung cepat – cepat cus ke Stasiun Gambir. Pulo gadung – Gambir sepertinya lumayan jauh, udah pesimis bisa dapat kereta yang jam 6 berangkat. Alhamdulillah ga terlalu macet, akhirnya nyampe Gambir jam 6. Langsung antri ke loket daaaannn hoooreee…… kami antrian terakhir yang bisa naik kereta Gambir – Bandung jam 6.15. setelah kami duduk di gerbong, kereta langsung berangkat. Lama perjalanan Gambir – Bandung kurang lebih 3 jam. Keretanya nyaman, toiletnya bersih, airnya banyak, ada musholahnya lagi.

Karena ceritanya liburan dadakan, pas nyampe Bandung bingung mau ngapain. Pertama kali yang dipikirkan tempat nginap di daerah yang mudah dijangkau kemana – mana. Referensi penginapan banyak, tapi tetap ga tau itu tempatnya dimana. Hasil dari browsing – browsing akhirnya dapet satu penginapan yang resepsionisnya ramah. Wisma Gandapura yang ada di jalan Pramuka jadi pilihan kami. Sengaja ga milih hotel, soalnya merasa rugi. Kan kamarnya cuma dipakai buat tidur yang hanya beberapa jam. Selama disana kami pulang jam 12 malem terus😀

Hati – hati sama kebaikan sopir angkot disana. Pas keluar stasiun kereta kami sengaja ga naik taxi. Soalnya belum tau tujuan kami mau kemana. Dapat inspirasi nelpon penginapan aja pas di angkot. Ternyata kami cuma dibawa keliling – keliling sama sopir angkot di daerah itu – itu aja. Setelah 15 menit, baru kami diantar ke penginapan yang kami tuju. Dia minta ongkos 65 ribu, padahal kalo di itung – itung jarak yang kami tempuh kalau naik taxi Cuma 30 ribuan jika diuangkan. Hadeeehhh….. kesan pertama tidak menggoda. Selanjutnya tak taulah (logat batak).

Nyampe hotel jam 11 malam. Setelah check in langsung cari makan. Ga ada warung yang buka. Tempat makan juga udah tutup. Di dekat wisma ada Pizza hut, pas kami lewat masih buka tapi pas kami datang kesana Udah tutup😥
Akhirnya makan mie tek – tek. Soal rasa jangan ditanya, bisa aja😀

Taxi Pulo Gadung – Gambir +/- : Rp. 75.000,-
Tiket Kereta Api : Rp. 105.000,- /Org
Ongkos carter angkot : Rp.65.000,-
Penginapan : Rp. 185.000,- (hari biasa), Rp. 200.000,- (Weekend)
Mie tek – tek : Rp. 15.000,- /porsi

29 Oktober 2015

Janjian sama trevel tadi malam, jam 5 subuh udah standby di penginapan. Ga taunya, jam 5 subuh baru bangun. Untung aja sopirnya juga ngaret. Jam 06 : 30 pagi langsung jalan. Mampir ke warung bentar untuk sarapan, setelah itu langsung tembak Kawah Putih. Di jalan kami merayu sopir supaya mau mengantar kami ke Gunung Tangkuban Perahu. Soalnya perjanjian sama rental mobilnya cuma jalan – jalan kearah selatan. Setelah nego, akhirnya pak sopir setuju dengan tambahan uang lima puluh ribu buat bensin (katanya…!!).
Diem – diem aja yaaa,,,jangan kasih tau trevelnya. Pssttttt…..Rahasia😀

Danau Situ Patenggang
Letaknya tidak jauh dari Kawah Putih sekitar 7 KM. Katanya disana ada batu cinta, tapi harus nyebrang dulu ke pulau yang ada ditengah – tengah danau. Sepanjang perjalanan dari Kawah Putih ke Danau Situ Patenggang kita akan dibuat kagum dengan hamparan perkebunan teh yang seperti permadani berwarna hijau. Cantik dan menyejukkan hati. Tapi kalau pemandangan pas di danaunya lebih eksotis Danau Toba. Jadi menurutku biasa – biasa aja. Kami juga ga lama disana, soalnya terasa membosankan (pengaruh masih pagi). Masuk sebentar, beli gorengan (jauh yaaahh…!!), foto – foto terus cabut. Malah lama-an foto – foto di kebun teh, soalnya cantik buanggeettt. Hihihhihhi….

12191811_1100227449987748_8662295667406342661_n

Danau Situ Patenggang

12065769_1100241279986365_4474288569556321975_n

Kebun Teh

10513299_1100241226653037_6191494184518822573_n

Biaya Masuk sekalian mobil : Rp.48.000,- (tapi kalau ngasih uang Rp.50.000,- ga dikasih kembaliannya <berdasarkan pengalaman>).

Kawah Putih
Jarak dari tempat masuk ke kawah putinya lumayan jauh. Tapi tenang aja, udah tersedia angkutan antar jemput untuk kesana. Soalnya kalau bawa mobil pribadi tarif masuknya berkali – kali lipat lebih mahal. Waktu kami kesana kebetulan lagi musim kemarau, jadi air kawahnya agak surut lumpur belerangnya jadi luas. Ga bias nyenggol airnya deh…
11219345_1100227623321064_8218776086306850696_n
12187846_1100240936653066_4776825473224467428_n
1934196_1130885233588636_1508955478190254405_n

Tiket masuk include angkutan : Rp. 33.000,-/Org
Foto langsung cetak : Rp. 20.000,-/lembar

Gunung Tangkuban Parahu
Letaknya sekitar 20 Km arah utara kota Bandung. Tepatnya di daerah Cikolek. Disana kami dikenalkan dengan pucuk daun dari pohon Manarasa oleh penjual souvenir. Ini lalapannya Dayang Sumbi, Konon katanya jika kita sering makan pucuk daun tersebut kita akan awet muda (ntah lah…!!), yang jelas rasanya seperti makan daun jambu (sepet – sepet gimana gitu).

12109285_1100254526651707_2856707777173688129_n

Pucuk Daun dari Pohon Manarasa

12195863_1100240816653078_936379746337356296_n
12065531_1100254583318368_7294360568357580900_n

Tiket masuk : Rp. 20.000,-/Org
Makan Siang di Kopi Luwak Cikolek (ber 3 sama sopir) : +/- Rp. 150.000,- (Menurut saya murah, soalnya tempatnya nyaman dan makanannya enak mengenyangkan)

Floating Market Lembang
Awalnya kurang tertarik waktu diajak sopirnya kesini. Tapi karena si Sopir sepertinya pengen banget kami kesana, jadi mampir deh. Niat awal Cuma mampir bentar, soalnya kata sopir, ini pasar terapungnya Lembang. Tapi pas masuk dan jalan – jalan di dalam, jadi kebablasan ga mau pulang. Tempatnya nyaman, luas, bersih dan menyenangkan. Apalagi pas sore – sore kesini, tenang banget. Disini ada miniatur kereta api yang bisa berjalan, taman kelinci, tempat jual souvenir, makanan khas Bandung, saung – saung dan perahu – perahu yang jual makanan yang buat kita lapar mata dan kekenyangan (hehehehe….). Banyak banget ikan emas di kolamnya. Rasanya adem banget disini. Tempat sholatnya luas, terpisah antara perempuan dan laki – laki. Ini termasuk tempat yang mendahulukan kenyamanan untuk pengunjungnya. Mind set pasar yang kotor dan bau langsung hilang. Oh iya, tiket masuknya jangan dibuang ya. Bisa ditukar dengan segelas minuman dingin atau hangat.
12193695_1100254723318354_5271698308920320714_n

12063343_1100240973319729_9162288402043747174_n
Tiket Masuk : Rp. 15.000,-/Org

Selesai explore daerah sekitar Bandung hari ini. Dan ternyata masih banyak lagi tempat wisata di Bandung yang belum kami kunjungi. Emang ga cukup sehari kalau kesini.

Rental mobil (dengan sopir Bapak yang baik hati, ga banyak tingkah dan tidak sombong. Bisa jadi guide dan tukang foto. Makasih ya pak, udah sabar ngikutin dan fotoin kami…hehehhehe….) : Rp. 600.000,- (seharian dari jam 7 pagi – 9 malam dari arah Selatan ke Utara Bandung. Bonus : nganterin ke Mall buat beli HP)

30 Oktober 2015

Walaupun tadi malam tidurnya di atas jam 12. Hari ini tetap harus bangun pagi, selain untuk sholat subuh kami juga udah ada janji sama orang rental motor. Jam 7 tukang rental datang, sarapan dan langsung cusss jalan – jalan keliling Bandung. Tempat pertama yang kami kunjungi Gedung sate dan di akhiri dengan beli oleh – oleh di Terminal Bus yang lumayan jauh dari penginapan.

Gedung Sate
Berada di Jl. Diponegoro No. 22 Bandung. Letaknya tidak jauh dari penginapan kami yang di Jl. Pramuka. Merupakan salah satu bangunan bersejarah di Bandung. Waktu itu kami ga masuk ke bagian dalamnya. Cuma numpang foto dan jalan – jalan ditaman yang terawat dengan rapi. Kebetulah waktu itu hari jumat, ada seperti pertunjukan gamelan yang dimainkan disana. Terasa banget aroma Bandungnya ^_^
12189122_1100255219984971_6092755880233053547_n

Masjid Raya & Alun – alun Bandung
Pas nyampe disini langsung tertarik dengan hamparan hijau lapangan luas seperti lapangan bola kaki. Tapi pas kami menginjakkan kaki disana ternyata lapangannya panas choyyy. Padahal masih jam 9 pagi, mataharinya udah cetar banget. Ternyata itu bukan rumput asli tapi rumput sintetis. Emang Pak Emil kreatifnya luar biasa. Waktu yang paling tepat ke tempat ini sore atau malam hari, soalnya sejuk. Jadi bisa main di lapangan membaur dengan warga Bandung.
11227871_1100255916651568_7045679678056279807_n
12196208_1100256019984891_1147354621758600949_n

Gedung Merdeka
Letaknya tidak jauh dari Alun – alun Bandung. Kebetulan waktu kami kesana lagi ada syuting Preman Pensiun. Foto – foto deh sama salah satu pemainnya.
10410575_1100256609984832_6917607925717567276_n
12540900_1140017602675399_5821130595252156035_n

Trans Studio Bandung
Siangnya setelah suami sholat jumat kami langsung ke Trans Studio Bandung. Akhirnya kesampean juga main kesini. Setelah beli tiket langsung bersemangat buat nyobain semua permainan yang ada di sana. Ekspektasi mau nyoba semua, tapi apa daya realita banyak takutnya. Ini arena permainan Indoor yang cukup ekstrim menurut saya yang emang ga terlalu suka dengan permainan yang berhubungan dengan ketinggian, diputer – puter, dibanting – banting dan dicelupin (kidding). Menurut info ada 21 wahana yang tersedia di Trans Studio Bandung. Tapi yang kami coba cuma 9 wahana (Jelajah, Giant Swing, Marvel Superheroes 4D, Dunia Lain, Sky Pirates, Kong Climb, Dragon Rider, Trans Car Racing, Si Bolang Adventure). Kebetulan waktu itu pas jam 5 sore ada show yang judulnya Trans Studio Parade & Spectacular. Emang lumayan spektakuler dan seru shownya. Kalo berkunjung kesini lebih baik pilih hari biasa, katanya weekend harga tiketnya naik. waktu yang tepat untuk berkunjung mulai dari jam 10 pagi, supaya bisa dapet semua shownya.
12189083_1100240843319742_1186214002060538087_n

Tiket Masuk : Rp. 170.000,-/Org

Keluar Trans Studio sekitar jam 8 malam. Baru ingat kalau belum beli oleh – oleh makanan Khas Bandung. Tapi tempat yang jual oleh – oleh udah banyak yang tutup. Tetep aja nekat ke Pasar Baru, nyampe sana yang buka cuma toko yang jual bunga buat ke kuburan (Haadeeeehhh….!!). Posisi udah jam setengah 9, sedangkan kami masih nyari tempat yang jual oleh – oleh dan cilok.
Kenapa cilok…..?
Itu karena saya punya special request sama suami (sifat aneh mulai muncul), pokoknya saya mau ditraktir cilok di hari terakhir kami di Bandung. Bandung tempat tersebarnya penjual cilok, tapi kalo udah jam segitu susah banget nyari cilok. 2x keliling Pasar Baru akhirnya ketemu dengan bapak yang jual cilok. Mungkin dia satu – satunya penjual cilok yang masih nangkring jam 9 malam. Dari bapak itu juga akhirnya kami tau dimana tempat untuk menemukan oleh – oleh di jam segitu. Terminal Bus Bandung, Cuma tempat itu yang masih jual oleh – oleh sampai larut malam. Langsung cusss ke TKP. Stop bentar dipinggir jalan buat beli minum, ubi goreng & cireng😀 . Ternyata emang bener banyak yang jual oleh – oleh di sepanjang jalan mau ke arah terminal. Yang pertama kali di pilih wajik bungkus kulit jagung, ini makanan kesukaan saya sejak kecil. Nyampe penginapan jam 12 malam lagi. Masih harus packing dan beres – beres buat persiapan pulang besok pagi.

Rental Motor : harga awal Rp. 80.000,- + Rp. 20.000,- (biaya antar motor ke penginapan) + Rp. 20.000,- (biaya jemput motor ke stasiun kereta). Lama sewa 24 jam Full.
Makan siang + makan malam : ga keitung, soalnya banyak jajan dan mampir buat makan😀

31 Oktober 2015

Pagi – pagi bangun, selesai sarapan langsung ke stasiun kereta. Balikin motor ke yang nyewain, untungnya dia bisa jemput di stasiun, jadi bisa hemat ongkos ke stasiun beebbbhhh😀

Alhamdulillah saat perjalanan liburan ini kami selalu bersahabat dengan kereta api. Ga perlu nunggu lama, soalnya tiap kali beli tiket kereta pasti waktunya mepet pas keretanya mau berangkat.

Nyampe gambir langsung cari Monas. Kedengarannya emang norak, tapi apa daya ini kenyataan. Sejak awal ke Jakarta sampe sekarang, baru kali ini saya melihat Monas secara nyata. Padahal sering Dinas ke Jakarta, transit atau nginap beberapa hari disana tapi gak pernah liat Monas (deritakuuu….hiks). Jarak dari Gambir ke pintu masuk Monas itu jauh banget. Sewa andong Mahal (40-60rb), akhirnya sewa ojek. Nyampe gerbang, masih harus jalan jauh dan kami menyerah. Akhirnya ga jadi masuk Monas. Cuma foto – foto aja di deket patung Taman Medan Merdeka Selatan berlatarkan Monas, soalnya ada kunjungan anak – anak KKL dari Bali. Ramenya tuh Monas bikin ciut nyali mau masuk ke dalamnya.
12193575_1100260776651082_3000916171860385078_n

Selesai foto cekrak – cekrek. Balik lagi ke stasiun Gambir, langsung cus naik Damri Bandara. Nyampe Bandara masih ada waktu sekitar 2 jam, makan siang dan Pulang ke Palembang.

Rasanya masih kurang waktu jalan – jalan dadakannya. Lain kali pengen banget explore Bandung lebih lama lagi.
Ini ceritaku ^_^

Sewa ojek PP dari Stasiun Gambir ke Gerbang Monas : Rp 20.000,-/motor
Damri Gambir – CGK : Rp. 40.000/Org
Makan Siang (di Solaria Bandara, dengan menu andalan Nasi Goreng Kepiting) : +/- Rp. 100.000,- ber dua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s